From FLEET STREET to GALAXY LAYERING AWAY

dila curcol, just our thoughts March 10th, 2009

Hepi long wiken semuanya. Sabtu (kalo kalian pake 5 hari kerja), Minggu, Senin liburan… Aaah, sungguh sebuah refreshing, mengingat Februari kemaren ga ada tanggal merah at all. For me? Ngga ada yang istimewa sih. Sabtu Minggu Senin justru full-full-nya siaran. Hhhh. Mana Terry ga bisa dateng ke Semarang lagi… Hadeuuhhh. Gapapa deh. Cuma segini doang. If I can’t hold on, what will we be next?

Anyway, alih-alih ga bisa lepas dari rutinitas, aku membayarnya dengan nonton beberapa film. Not the newest, ngikut apa yang pengen aku tonton aja. Agak aneh memang, penyiar ILFIL kok ga nonton film terbaru? DVD-nya kan ada dimana-mana?

Well, kalo aku emang ngga pengen nonton, gimana lagi dong? At least buat film terbaru (terutama yang mo dibahas di ILFIL), aku baca reviewnya, aku tonton trailernya. And my mood will do the rest, apakah selanjutnya aku pengen nonton ato engga. But for my eyes and my soul (jiahhh..), aku pilih yang pengen aku tonton aja. Biarpun itu film lama sekalipun. Hehehe, ngeles ya? Gimana lagi, aku ini kan cuma seorang penikmat film. Just like you, guys.

So, semalem aku sempet nonton 3 film.

Yang pertama SWEENEY TODD : THE DEMON BARBER OF FLEET STREET. Another kerjaannya trio quirky Tim Burton, Johnny Depp dan Helena Bonham-Carter. Film thriller musical yang mereka banget deh. Suram tapi artistik. Tentang pembalasan dendam Benjamin Barker slash Sweeney Todd, seorang barber yang keluarganya direnggut secara tidak berperi kemanusiaan sama Judge Turpin. From the beginning, aku tau cerita (yang basicnya percintaan) ini bakal berakhir tragis, seperti halnya film-film Tim Burton yang lain. Struktur naratifnya berjalan lumayan tek-tok, biarpun pake acara nyanyi-nyanyi segala. Malah kadang si nyanyi-nyanyi ini berisi banyak makna, termasuk flashback-flashback tertentu.

But it’s kinda savory aja ngeliat mas Johnny Depp nyanyi dengan wardrobe yang selalu bikin dia keliatan aneh tapi keren. Bikin cinta deh pokoknya! Dan mise-en-scene yang berpalet abu-abu gelap dan painting-wannabe itu oh… Sungguh indah! Oh ya, ada Alan Arkin juga disini. Pastinya dengan tone suara yang selalu mengingatkanku pada perannya sebage Severus Snape. Helena Bonham Carter tampil mengesankan seperti biasa, awut-awutan, pucat dan mengumbar cleavage. Hohoho. Sayangnya, karena yang aku tonton versi VCD, jadilah acara gorok-gorokan pake piso cukurnya banyak disensor… Ngga terlalu pengen liat juga sih sebenernya, tapi karena ilang lumayan banyak, jadi ganggu juga.

All I can say, film ini Tim Burton and the gang banget. Which is.. me likey.

Next, aku nonton film animasi STAR WARS : THE CLONE WARS. Bikinan Lucas Film, yang teteuuup.. dibuka dengan kalimat “Long time ago, in a galaxy far, far away…” Ceritanya sih ngga related sama saga Star Wars yang udah-udah. Tapi settingnya sama, recent gitu, masih di masa perang Republik dan Separatis, dimana Anakin Skywalker dan masternya Obi-Wan Kenobi sibuk perang antar galaksi.

Tapi ceritanya berdiri sendiri, kok. Tentang Count Dooku yang memanipulasi penculikan anaknya (apa kecebongnya ya?) Jabba The Hut, bandit penguasa sisi luar galaksi, kemudian memfitnah Ordo Jedi. Jadilah mereka perang. Devide et impera gitu deh. Tambahannya, ada karakter Ahsoka Tano disini, cewe yang dititahkan jadi padawannya Anakin.

Biarpun animasi, semuanya dibikin mirip sama versi live actionnya. Tone suara dubbernya juga, meskipun ngga pake aktor live action benerannya (iyalah, mahal dong). Oh, kecuali Samuel L. Jackson as Mace Windu, C3PO dan Jabba The Hut. Tapi yang lainnya suaranya mirip sama aktor aslinya. Bahkan suara karakter Padme Amidala-nya Natalie Portman banget. Udah gitu penggambaran karakter animasinya pake tai lalat di pipi juga, just like mbak Portman.

Dasarnya emang doyan sama ciu-ciu-ciu-nya Star Wars, nonton ini ya akunya suka-suka aja. Penggambaran adegan perang, warp, robot, pesawat dan senjatanya lumayan dahsyat. Yah, meskipun emang ngga se-breathtaking versi live actionnya. Apalagi pas penggambaran duel Jedi versus Dark Force. Soul berantemnya buat aku ngga nyampe aja. Mungkin karena suara khas light saber yang ‘bwuuung bwuuung’ itu ngga terlalu diekspos disini. Padahal, that friggin sound is my friggin favourite part! Jadilah rasanya ngga semerinding pas liat live actionnya. Apalagi General Grievous ngga nongol disini. Cuma kesebut namanya doang. Biarpun villain, tapi General Grievous itu droid yang punya 4 tangan dan 4 light saber! Light sabernya bisa disambung jadi 2 toya yang muter-muter pula. Aaaargh, kebayang dong betapa orgasmic-nya diriku mendengar suara ‘bwuuung bwuuung’ light sabernya Grievous… Sayangnya diana tinta klewong disindang* (baca : dia tidak keluar disini). Hehehehe.

To sum it up, nonton film animasi yang satu ini cukup menghibur, meskipun tidak begitu memuaskan hasrat ‘bwuuuung bwuuung’-ku. Jadi kepikiran nonton Star Wars lagi. Bahkan begitu habis nonton ini, wallpaper laptop yang tadinya majang concept art-nya Lothlorien from Lord Of The Ring, langsung aku ganti gambar Millenium Falcon yang lagi ngambang di outer space. Once aku pernah simultaneously nonton 6 film Star Wars. Next time I’ll do it again.

Hmmm. Dan sekarang yang terngiang-ngiang di kepala adalah score Star Wars. Tet tet tet, tet tet teeet, tet tet teeeeet…


Terakhir aku nonton LAYER CAKE. Sebuah film criminal yang unsur penceritaan dan editingnya lumayan unik. Tentang rumitnya bisnis drugs, once upon a time di Inggris sana. Mulai dari pengedar kelas kroco sampe distributor yang bekerja pada pemasok yang bisa hidup enak jadi anggota klub kelas atas. It’s a layer cake, strata sosial. Semua pengen dapat share duit yang gede. Bunuh bunuhan, curi curian komoditi, sampe tipu muslihat yang melibatkan polisi, sniper dan hitman. Plotnya rapet, ngga bikin bosen. Ngga terlalu dar der dor, tapi cukup seru ditonton. Editingnya juga ngga terlalu standar. Menarik.

But I have to admit, for me, personally, yang membuat aku memilih film ini buat ditonton adalah keberadaan mas Daniel Craig. Of course pasca kharismanya di 2 film Bond terakhir. Heard bout this movie long time ago, tapi ga ngeh kalo yang main Daniel Craig. So I’m dying to know, kaya’ gimana aktingnya sebelom jadi Mr. Bond. Ternyata ngga jelek dan karakter tokohnya keluar. Badannya emang masih agak lean, but.. My oh my, what make you so damn hot?! Was it your eyes? Your lips? Whew, ini orang kharismanya sinting! Dibilang ganteng engga juga, tapi every move he made, rasanya begitu berkharisma! Menjepnya (teteup ya?), cara dia senyum, jalan, mengacungkan pistol… Oh-my-God. Nyerah deh kalo udah ngeliat mas yang satu ini. Bukan secara sex appeal, tapi apa ya? Ga tau, ngeliat tengkuk dan rambut jigraknya aja rasanya merinding… (Eh, itu juga sex appeal ding..)

Plus, ga tau ya, apakah aku terlena ato gimana, di akhir film, tokoh yang diperanin Daniel Craig ngeliat kamera dan menyadarkan aku akan satu hal : selama hampir 2 jam nonton filmnya I HAVE NO IDEA WHO THE HELL IS HIS NAME. Di credit title dibilang namanya mr. XXX aja. Aku coba cari-cari lagi, and it does. Tokohnya memang ngga bernama. Atau sempet kesebut tapi aku ngga ngeh. Ah, sinting emang film ini. Pake Daniel Craig sebage distraction, lagi. Curang! Kalo udah gini, siapapun namanya jadi ngga penting, as long as banyak adegan dia telanjang dada… Awww.

Duh, kok jadi murah begini sih ceritanya? Hehehe, maapkan saya. But believe me, film ini ngga cuma ajang cuci mata cewe-cewe. Seru, worth to see.

Okay. That’s it for today. Ketemu lagi di review-asal-ala-Dila lain kali yaa. Kalo mau review yang serius, jangan lupa konsen ILFIL : Info Lengkap Tentang Film, tiap Kamis jam 7 malem, di 102.4 Gajahmada FM. Haha, jadi promo deh.

See ya!