Flash news : i’m still brokenhearted like hell, tapi demi tanggung jawab terhadap blog ini, i have to watch some movies and start writing.
So here it goes..
Setelah sekian lamanya ngga nonton film -karena adaptor maksiat itu ngga dateng-dateng- Sabtu kemaren Oliph yang cuantek dan baik hati
meminjamkan adaptornya buat tak bawa pulang. Nomer satu sih karena dia mo kedatangan tamu istimewa jadi laptopnya nganggur, baru nomer dua dia kasian sama aku… hehehe. Ga ding liph, ailopyu lah pokoknya.
Cek punya cek, spek adaptornya mirip. Sip, dibungkus. Mampir ke Ezy, pinjem beberapa film.

EAGLE EYE
Sempet underestimate sama nih film, tapi ternyata seru juga. Unsur kausalitasnya lumayan masuk akal. Segala macem visual efeknya capcus punya. Tarik ulur plotnya pas, ngga terlalu cepet ngga juga terlalu lambat. Plus chemistrynya mas Shia LaBeouf sama mba Michelle Monaghan dapet. Shia ngga cuma jadi seorang remaja clumsy yang bingungan, bahkan sekilas tampak sebanding dengan Michelle yang lebih tua. Recommended buat kamu yang suka film-film thriller action berbumbu konspirasinya negeri Paman Sam, pentagon and everything in between.

THE LOVE GURU
Sebenernya sih ngga terlalu pengen nonton film ini, tapi entah lagi iseng ajah. Overall, filmnya ‘ganggu’. Guyonan sexish-sarkas-rudish ala Mike Myers-nya masih tetap disgustingly funny (frasa appa ini?). Lucunya not in many ways sih, jadi ngga semua orang bakal suka sama yang beginian. Aku juga cuma ngekek di beberapa bagian. Sayangnya such a waste aja naro Jessica Alba disini. Kalo JT sebage Jacques ‘Le Coq’ Grande-nya sih oke ya, karena semakin jayus, justru semakin sejalan sama core filmnya : film ‘ganggu’. Omaigod.. Le Coq Grande… hahahaha.. (ps:after googling, aku baru tau kalo ‘Mariska Hargitay’ itu ternyata nama artis toh? Kirain salam beneran. sableng!)

TWILIGHT
finally aku menonton film yang mengguncang hati para abege putri ini (termasuk Radith juga ding..). betapa mereka jadi termehek mehek sama Edward Cullen dan ber-’awww’ ria melihat kisah cinta mereka. well, sebelumnya aku mo ingetin, review ini subjektif dari aku ya (secara Ossy pun cinta sama film ini). buat aku film ini… umm, seperti High School Musical versi vampir? Cara Edward mencuri-curi pandang, aspek kausalitas hubungan Edward-Bella.. kok malah berasa agak picisan ya? Dan gaya Edward yang mencureng-cureng itu.. oh-so-ganggu! Minta diculek mas? (Edward Cullek kali ah.. Hiih, bisa dibantai sama abg-abg pecinta Edward Cullen guah!) Juga efek-efek ala Brama Kumbara dan Manthili berlari di pucuk pepohonan itu.. Hmmm. This is hollywood-made bukan? Apa ga ada metode yang lebih keliatan cool gitu? Ibu Stephanie Meyer juga muncul sebage cameo disini… mmm, isn’t it too early to showed up as cameo? Ngga bisa nunggu sampe film ke-2 gitu?
Overall filmnya sih oke, tapi begitu popish. Mungkin peruntukannya emang buat remaja kali ya. Kalopun ada yang aku anggep ‘kereeeen’ di film ini, itu cuma adegan ketika Laurent, James dan Victoria, para Nomadic Vampires itu muncul pas the Cullens maen baseball. Hrrrrr. Itu baru vampire
Dan si pemeran James, mas Cam Gigandet… way more better and heart throbbing than Edward Cullen himself.. (FOR ME!). Take a look at these :


Ini baru bikin mehek-mehek! Those eyes! That jaw! Ughhh.
*sabet pecut* Aww, oke, aku bangun! Anyway, film ini tetep bikin penasaran kok. Aku ga keberatan nonton film keduanya. Mari kita tunggu bersama-sama. Dan sekian deh buat acara nonton2 pisidinyah. Masih ada beberapa film di rumah. Tetep tunggu review ngawur ala saya.
See ya!
Ps : mo bilang tengkyu sekali lagi buat Oliph yang minjemin adaptor. Tengkyu Oliph. Tengkyu Oliph. Tengkyu Oliph. Tengkyu Oliph. Tengkyu Oliph. Tuh, udah 5x kan? Hihihihi.
—
—