Iya, soalnya kemaren malem, pas ke Ezy aku pengen minjem film Indonesia, dan AT LAST aku nonton Ayat-Ayat Cinta… Habis itu aku sambung sama 6:30. Dan berikut review amatiran ala saya :

AYAT-AYAT CINTA

You betcha. Aku bukan termasuk orang yang mengantri berjam-jam buat dapet tiket, saat film ini begitu booming sampe jadi box office. Bukan karena ngga tertarik, justru sangat penasaran. Cuma ga pengen jadi bagian dari euforia aja.

Akhirnya aku menontonnya via VCD rentalan. Filmnya bagus, karena didukung cerita yang bagus. Tapi buat aku adaptasi dari novel ke layer lebarnya memang ngga begitu pas. Ya, memang film ngga harus persis kaya’ novel Tapi aku ngga rela dong kalo filmnya sempat membuat Aisyah sang istri soleha tampak bagai dominatrix saat membelikan laptop dan membayar makan malam Fahri? Dan hal tersebut tergantung begitu saja. Konon Habiburrahman El Shirazy juga ngga sreg sama bagian ini. Bukannya di novel akhirnya tercipta sebuah konklusi kalau Aisyah akan membiarkan Fahri menjadi imam dalam keluarga, termasuk dalam mengatur keuangan? Dan kenapa Noura berpakaian just like Zaskia Adya Mecca? Dengan kerudung dan baju ketat? Bukannya Noura ini asli Mesir?

Ah, tapi dalam kasus ini nila setitik tidak membuat rusak susu sebelanga kok. Cuma bikin mengernyitkan hidung pas minumnya. Ayat-Ayat Cinta tetap sebuah fenomena, yang perlu riset sedikit lebih dalam ketika mengadaptasinya.

6:30

Aku ngga ngerti deh sama film ini. Apakah kreatornya bermaksud bikin film yang Artsy? Edgy? Dengan latar San Fransisco, film ini berusaha menceritakan pergulatan 3 sahabat : Tasya yang easy going, Bima yang serius, dan Alit yang careless –ya, mereka orang Indonesia, living in SanFuckingFransisco- dengan masalah mereka masing-masing. Masalah mereka berkaitan dengan cinta segitiga, harapan, dan cita-cita.

But, oh, cut it off. Dengan durasi gambar long take dan mise-en-scene yang digambarkan begitu effortless ala Amerika, mata Adilla Dimitri ngga bisa berbicara ketika dia memerankan Alit yang sembarangan tapi punya rencana sendiri di dalam kepalanya. Bahkan cara ngrokoknya pun aneh. Struktur naratifnya juga ngga enak. Linear tapi naik turun ngga bersebab-akibat. Tasya pergi ke bar dengan baju sleeveless di malam hari tanpa coat? Dan wtf is the Udin’s Parking Lot thing? Dan dialog-dialog panjang itu.. Oh.. Kalo emang mau ngemeng panjang lebar, mbok naskahnya yang menggigit, jangan mo-no-ton. Kalo ngga bisa, bikin yang biasa aja…

And I have to say, chemistry ketiga pemain utamanya, Adilla Dimitri, Dinna Olivia dan Winky Wiryawan ngga begitu klik. Udah gitu aku ngga ngerti sama nih film yang udah jauh-jauh syuting di San Fransisco, tapi dialog pemainnya kecil banget, kalah sama noise dan ilustrasi musiknya. Ending pattern-nya Adilla juga lumayan ganggu. Plus, sang penulis film ini, -aku lupa namanya siapa.. AH. Rinaldy Puspoyo..- muncul sebagai cameo, tepatnya sebagai seorang homeless yang tiduran di trotoar! Muncul di credit title pula. Dia pikir dia siapa? Stan Lee?

Aduh, ngga usah jauh-jauh ke Amerika dan bergaya seperti mereka lah. Film 3 Hari Untuk Selamanya bisa melakukan apa yang berusaha 6:30 lakukan, hanya dengan perjalanan Jakarta-Jogja. Dan hasilnya terasa seperti Juno ala Indonesia.





Leave a Comment