(tulisan jelang tengah malam, baru diposting besokannya)

Ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan.

Semuanya ngga berjalan selancar yang aku bayangkan. Setidaknya buat aku. Padahal ini baru permulaan. Sangat-sangat awal. Apa aku minta terlalu banyak? Aku cuma minta sedikit. Sedikit aja. Aku ngga ada disana, dan yang bisa membuatku merasa berarti hanya uluran tanganmu.

Tapi…
Ketika aku memulai, waktuku salah.
Ketika aku meminta, aku dibilang ngga pengertian.
Ketika aku menunggu, aku kecewa.
Ketika aku merintih, kamu malah meradang.

Apa yang harus aku lakuin? Bukan cuma kamu kan yang butuh ditenangkan? Ya, yang aku hadapi hanyalah hal kecil yang kukunyah sehari-hari. Sementara kamu.. Menyongsong sesuatu yang besar. Besar, ya, sangat besar, bahkan aku ngga bisa membayangkannya. Tapi, gimana aku bisa tenang, percaya bahkan fokus ngedukung kalo kamu segitu ngga pedulinya?

Apa ini akan terus jadi sumber masalah? Apakah aku akan berubah jadi sosok yang menjengkelkan buat kamu? Apa kenyamanan yang kamu cari bakal hilang dari aku? Apa yang terjadi dulu akan kembali terulang, dengan aku sebagai pemeran antagonisnya? Apa ini yang namanya karma?

Aku dan pikiran suramku.
Aku sungguh ngga pengen begini.
Aku pengen percaya.
Aku ngga mau berubah jadi beban.
Aku cuma minta, tolong bantu aku. Tolong bantu kita.

Kali ini bukan sekedar kuliah sambil siaran. Apa jadinya kalo ini terus kejadian? Dengan keadaan yang semakin berat kedepannya, apa kita tetap akan melaluinya dengan bad habit masing-masing? Kamu bilang kita harus terbiasa. Terbiasa apa? Terbiasa careless satu sama lain? Gimana jadinya kita?

Aku berharap hal yang lebih baik bakal terjadi besok. Karena saat ini di hati yang terasa bukan hangat yang biasa ada ketika aku mengingatmu. Yang ada cuma sepi. Takut. Sedih. Insecure.

Aku kangen tawamu. Aku rindu logat menggelikan saat kamu panggil aku berdua aja. Aku kangen rajukanmu yang selalu bikin aku ngga tega bilang ngga. Aku rindu setiap detil membosankan yang biasa kita bagi bersama. Aku pengen kita bahagia. Aku pengen kita baik-baik aja.

update: Ternyata, KITA TETEP BAIK-BAIK AJA! Alhamdulillah… :)





3 Comments to “Does this love PERSIST?”

  1.   oliviawhite1024 | January 14th, 2009 at 11:41 am

    sindrom LDR kah , jeunk????

  2.   toekang roempi | January 15th, 2009 at 8:57 am

    Oooohh…so sweeeeeeettttttt…..

    (i wanna cry)

  3.   nepih | January 15th, 2009 at 3:08 pm

    @oliph
    lagi ada masalah dikit. dan susah nyelesaiinnya kalo jauh :) that’s why aku angkat topi sama orang yang sanggup LDR-an dan bisa saaaangaaat sabar.. termasuk kamyuu huhuhuhu..

    @toekang roempi
    ih, bisa aja! rempong, rempong, rempong, rempooong!

Leave a Comment