Sabtu kemaren, eyang-nya Terry atau biasa dipanggil Abah, berpulang ke Rahmatullah. It hurts him so deep, karena Terry sangat dekat sama almarhum beliau. Semakin sakit, karena Terry ngga ada di deket beliau di saat terakhirnya. Ketika berita itu sampe ke Terry, Terry bahkan lagi mengkoordinasikan absent siarannya -buat kesekian kali- ke bang Ade. Akhirnya pulanglah dia langsung ke Bandung, sore itu juga, ngeteng bis Coyo tujuan Cirebon, trus ganti bis lagi. Terry nyampe Bandung sekitar tengah malem. I’m sorry for you, te… I know this thing could be even more harder, karena situasi berat yang akan terjadi di kemudian hari.. I just can’t see you falling down like this, now or later. Hope I can do something real for you. To accompany you, to straighten your back..

Beberapa hari sebelum berita duka ini datang, aku sama Terry sempet ke Ezy. Kita liat film THE BUCKET LIST. Dengan becanda kita bilang, “hehe, ini mah filmnya Eyang Soekarmin dan Abah Nugraha ya”. Eyang Soekarmin itu eyangku, dan seumuran sama Abahnya Terry. Suka kebayang aja kalo mereka ketemu, jadi akrab trus ngobrol bareng.. Tapi tentunya dengan harapan mereka berdua sehat terus dan panjang umur, ngga kaya’ cerita di filmnya ya.

Setelah Terry pulang buat almarhum Abah, aku ke Ezy lagi. Aku liat cover CD The Bucket List yang dipajang lagi. Aku timbang-timbang, akhirnya aku pinjem. Dan selesai aku menontonnya, aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai film yang harus aku kopi ke harddisk-ku (for personal use only kok, jadi ngga termasuk ngebajak dong ah).

To see this movie, I laugh and (nearly) cry at the same time. Jack Nicholson as Edward Cole, si bisnisman sukses yang egosentris dan sangat suka Kopi Luwak ( I loooove to see that bule-bule said “kopi luwak”). Morgan Freeman as Carter Chambers, seorang suami, ayah dan kakek yang bersahaja, dan punya pengetahuan sangat luas. To see that two oldman’s relationship. To feel their chemistry. To heart the ending of the movie. Adegan favoritku adalah ketika mereka berdua safari ke Afrika. Menyanyikan The Lion Sleeps Tonight sambil nongol di sunroof mobil. Juga adegan Edward terpelanting kebelakang gara-gara sok-sokan nembakin senapan berburu gede, sementara Carter Cuma ketawa aja. Lucu sekaligus indah banget scene itu. Screenplaynya juga begitu pintar, cerdas sekaligus gampang dicerna. Kalo kamu sekarang lagi down, coba deh tonton film ini. It will fill your heart with something-i-don’t-know-but-feels-warms.

Hidup itu aneh ya. Ada saat dimana kita merasa sama sekali ngga kekurangan, tapi ada yang hilang di hati kita. Padahal, kenapa sih kita harus ngeliat gelas itu setengah kosongnya? Kenapa susah banget buat ngeliat setengahnya yang isi? Kenapa kita cenderung bilang “Duitku TINGGAL limaribu” ketimbang “Duitku MASIH limaribu”?

Living is struggling. So does loving. But both isn’t impossible to fight for.

How about let go? Do you think it’s tougher than it seems?

Because I do…

ps : film lain yang sempet ditonton - AMERICAN PSYCHO yang beneran saiko, UPTOWN GIRLS dengan lil stunning Dakota Fanning, CAMP ROCK yang oh-so-Disney, THE SPIDERWICK CHRONICLES yang menurutku way better than Narnia.. Kalo sempet ntar ditulisin deh..





2 Comments to “Let It Be, LET IT GO”

  1.   neonuno | December 9th, 2008 at 12:41 pm

    so sorry to hear that…i know how it feels like…when you lost someone and you weren’t there….tabah ya?

  2.   dila | December 10th, 2008 at 10:17 am

    i bet he will, with your support :)

Leave a Comment