RIGID movie nih…

just our thoughts July 20th, 2008

Setelah kemaren nontonin film lokal, 2 days ago i spent my precious saturday nite dengan nonton film yang agak-agak.. tidak biasa..

Dibilang tidak biasa disini maksudnya buat aku lho.. Soalnya aku yakin, for some people, film yang aku pinjem kemarenan itu.. Yeaah, just a piece of cakeee.. Makanan sehari-hari!  Tapi berhubung aku dibesarkan (hayah!) dengan dominasi film boxoffice dimana-mana, sesekali nonton film yang ngga terlalu gamblang menceritakan inti filmnya is such a refreshment.

Sore itu, malem minggu kemaren pulang dari studio aku mampir ke Ezy dan pinjem 3 film : ELEPHANT (review kumplit ada di sini) , EVERYTHING IS ILLUMINATED (klik sini buat reviewnya) dan MELISSA P (yang ini, silakan klik sini ).

Elephant_movie_poster_1
ELEPHANT
. Aku heran, how can i postponed so long before i watch this awesome movie? Film drama kriminal (so they said)  tentang penembakan murid SMU oleh teman mereka sendiri (sounds familiar, huh?). Digambarkan dengan cara yang mula-mula  bikin aku bosen, tapi lama-lama aku kebawa. Melihat scene yang sama tapi harus berulang karena dilihat dari sudut pandang 2/3 tokoh yang berbeda. Mendengar tiap helaan napas, decit karet sneaker, denting eating utensils di kafetaria sampai suara burung di luaran sekolah. Merasakan emosi tiap tokoh tanpa mereka harus banyak berkata-kata. Mengagumi realitas yang begitu kental terasa. Yang kemudian melengkapi acara jaw-drop-ku setelah nonton film ini adalah kenyataan bahwa judul ELEPHANT diambil karena istilah ‘elephant is in the building’ buat menggambarkan sesuatu hal yang kelihatan jelas buanget, tapi di-ignore oleh semua orang. It’s just portray the movie so right! Dan dalam film ini the elephant is something called bullying : laten tapi bisa berakibat begitu fatal. Korbannya bisa mengokang shotgun dan ngebunuhin temen-temennya. Dan ending-nya.. Ough! Nuff said. Just go grab the movie and see it by yourself.

Everythingisilluminatedposter0
EVERYTHING IS ILLUMINATED
. Yes, the movie is so illuminating. Berlawanan dengan tampang-tampang pemainnya yang begitu suram, film yang diambil dari novel karya Jonathan Safran Foer ini ternyata bisa membawa aura yang begitu positif, yet mengharukan. Positif karena diceritakan dengan cara yang begitu jenaka, plus bonus iringan musik khas.. i don’t know.. Ukraina? Pokoknya ngebikin aku jadi semangat dan pengen senyum-senyum sendiri. Dan mengharukan, karena sejarah yang sama bisa membuat orang -orang dari belahan bumi yang berbeda bersatu, larut sama pikiran mereka masing-masing, dan mengambil tindakan yang berbeda dalam menyikapinya. Disini kita jadi belajar, sejarah yang katanya basi atau ngga penting tetep aja  bakal mempengaruhi kehidupan kita di masa depan.  Untuk membuatmu jadi lebih baik, atau sebaliknya. Heritage will bring illumination. (ps : the real j.s.foer memerankan leaf-blower di cemetery adegan awal)

Melissapposterqd0
MELISSA P
. Banyak sensornya nih VCD-nya. Padahal aku mengharapkan banyak adegan yang mungkin memang terlihat vulgar, tapi mungkin merupakan inti penting dari film ini (padahal pengen ngeres.. hehe, engga ding). Yang pasti sensor VCD memang banyak menghilangkan kenikmatan nonton filmnya, aku harus nyari DVD-nya nih.. Buat filmnya sendiri, sekali lagi : reality bites. Seorang ABG yang jadi lolita gara-gara tertekan secara psikologis dalam love and life-nya. Sebuah film yang bikin aku mikir lumayan keras setelah nontonnya. kenapa ini begini? kenapa itu begitu? Karena buat aku, personally, character developingnya kurang. Apa gara-gara kebanyakan sensor jadi yang penting-penting ilang? Kaya’nya sih gitu deh. Once again, reality bites. Ati-ati deh buat orang tua yang punya anak cewe.. Mereka peka dan butuh buat berbagi sebagai sesama manusia. Jangan anggap they’re just a kid and don’t know anything. Mereka bisa belajar, dan jadi lebih liar.

ahhh.. that’s it for today.. then, kalo kata Raditya Dika..’smell ya later!’