i guess.. enough is enough..
Uncategorized November 25th, 2007
halo selamat siang para pembaca yang budiman.
.
saia dan teman-teman barusan pulang dari piknik kantor lhooo. tepatnya 4 hari 3 malam, kita ke bali, berduapuluh orang. jalan-jalan ke berbage macem pura, pantai (i did that parasailing guts!), toko, tempat upacara adat, and so much more. it’s quite fun. terakhir kali ke bali tuh.. pas ke nikahannya mbak arin sekitar setaun lalu. tapi ga sempet pergi kemana-mana. mana rumahnya dia di sekitar ubud.. yang ada cuma sawah dan art2 gallery yang mahalnya ngga kira-kira. mo ngapain coba?
.
oke. kembali ke bali kemaren. ada banyak sih yang mo diceritain. banyaak banget. mulai dari mr. PD yang berubah jadi drunken-master, balada kamar 430, hotel yang jauh di ATAS perkiraan, sampai guide-baik kami yang tadinya jaim berubah jadi menggila di hari terakhir.
.
tapi daripada itu, sakit hatiku kok lebih dominan daripada excitement yang pengen aku bagi ke kalian ya? sakit hati akibat sebuah perbuatanku di masa lalu kepada seseorang, yang sebenarnya ngga totally wrong. it feels wrong at the first time, tapi pada akhirnya bakal jadi bagus diakhirnya. it’s like makan pare. pertama emang ngga enak rasanya, tapi bagus buat kesehatan pada akhirnya. (fyi : terinspirasi dari kisah hidup redja silver yang telah memakan berbonggol-bonggol pare demi diet nyai-roro-kidul-nya)
.
nah. begitulah akhirnya. ketika kesabaranku dan tumpahan air mataku udah sampe di puncaknya, aku memutuskan : cukup. seseorang yang tadi aku bilang, ngga kunjung menginsafi rasa manis yang muncul belakangan. dia cuma peduli pada rasa pahit yang terasa di awal. and when i think of that, it’s like i just wanna shout : EMANGNYA ELU AJA YANG SAKIT? EMANGNYA ELU AJA YANG SUSAH? EMANGNYA LU NGGA LIAT SEBERAPA KERAS GUA BERUSAHA NGEJAGA PERASAAN ELU?
.
dia ga mau maafin aku. pertamanya kukira aku pantes ngedapetin itu. tapi lama kelamaan, aku ngerasa ‘apa cuma aku yang mikir dewasa disini?’. dia cuma peduli ama perasaannya. dia ngga peduli seberapa sakitnya aku. betapa banyak air mata yang aku tumpahin buat mikirin dia. betapa banyak saran yang dikasi terry supaya aku terus kuat. dan dia ngga peduli itu. dia pikir cuma dia yang terluka. dan akulah penjahatnya.
.
so i guess.. enough is enough.
About